Kamis, 16 Juni 2016

serpihan pengetahuan

Dalam hidup, aku selalu memikirkan akan bagaimana masa depanku nanti. Apakah setelah tamat dari kampus ini, aku akan segera mendapatkan pekerjaan? Di manakah aku akan bekerja? Dan untuk siapakah aku akan bekerja? Dan berapakah gajiku pada saat aku bekerja? Apakah orang-orang akan menghargai pekerjaanku dan mendapatkan pujian dari atasan?
Seorang guru. Itulah yang akan menjadi gelarku setelah tamat dari kampus ini. 4 tahun sudah aku menamatkan pendidikan di salah satu Universitas di Jogja. Dan sekarang, bagaimanakah dan dimanakah aku akan bekerja?
Namaku Rani Haryani. Aku mempunyai seorang sahabat. Namanya Sarah Kandelia. Dia merupakan sahabat saya yang paling disegani. Selain mata yang sangat indah dan berseri, raut wajahnya juga sangat ramah. Tentu saja, dia pun menamatkan pendidikan di Universitas yang sama, namun ia mendapatkan gelar yang berbeda denganku. Yaitu Psikolog anak. sosok Sarah tidak diragukan lagi, jika ada permasalahan anak yang terjadi di sekitar dia, maka ia tidak segan-segan untuk mendekati anak tersebut dan menyelesaikan pada hari itu juga.
3 bulan sudah, kami berdua belum mendapatkan sebuah pekerjaan yang kami inginkan. Dan pada suatu ketika, Sarah mengajakku ke kampung halamannya di pulau Rote. Sebuah pulau paling selatan di Republik Indonesia ini. Katanya, kami akan berlibur selama 1 minggu. Aku pun sangat antusias dengan ajakan sahabatku itu dan segera menyiapkan diri untuk berangkat. Dia meminta agar dalam 2 hari ini aku harus mempersiapkan barang-barang untuk berangkat ke Rote.
Selama 2 hari, aku menyiapkan diri untuk berangkat, bersama-sama dengan Sarah. Waktu itu, aku sempat dilarang oleh orangtuaku untuk ke sana. Mereka pikir, aku ini adalah anak tunggal. Jadi, tentu saja mereka merasa khawatir akan keberadaanku nanti. Tapi, setelah aku membujuk mereka bahwa aku hanya pergi selama 1 minggu, akhirnya mereka pun menyetujuinya dengan syarat bahwa selama di sana, handphone ku harus tetap aktif bagaimanapun caranya.
Akhirnya aku dan Sarah sampai ke kampung halamannya. Suasana di pulau Rote ini sangat berbeda daripada daerah asalku. Lalu, kami pun melanjutkan perjalanannya dan sampai ke rumahnya yang hampir memakan waktu 1 jam. Wow, sangat jauh dan jalannya pun hampir semua berbatu-batu. Tapi, semua pun terbayarkan dengan secangkir teh hangat dengan suasana yang sangat sejuk.
Rumahnya sangat sederhana. Temboknya yang masih terlihat batu-batanya, dan lantai rumah yang masih terlihat sangat sederhana. Aku sempat menganggumi akan sosok Sarah. Dia sangat mengetahui akan susah orangtuanya, dan selama ia bersekolah di Jogja, ia banyak mendapatkan beasiswa setiap tahunnya dan prestasi akademiknya juga sangat luar biasa. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa ia adalah orang yang saya segani.
Keesokan paginya di hari Senin, aku melihat beberapa kelompok siswa dengan berseragam merah putih, dan sekelompoknya lagi memakai pakaian bebas yang memegang sebuah buku sedang melewati di depan rumah Sarah. Saya melihat, ada senyuman, canda dan tawa yang menghiasi raut wajah mereka. Seakan-akan, dipikiran mereka tidak ada kata bosan untuk bersekolah. Berbeda denganku dulu, sewaktu masih SD aku selalu malas untuk bersekolah dan bahkan sampai kuliah pun aku masih memiliki sifat itu.
Ketika aku sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang, Sarah datang dan mengejutkanku, “Woe… apa yang kamu lihat hah?” Aku pun sangat kaget dan berkata, “Sarah? Hah.. jantungku hampir lepas tau.” “Hmm.. aku melihat dari tadi, kamu sedang bengong. Ada apa?” tanya Sarah. “Oh iya.. aku mau tanya kepadamu sesuatu. Jarak dari rumahmu ke SD di dekat sini berapa yah?” tanyaku dengan penuh penasaran. “Tidak terlalu jauh sih.. kamu bisa berjalan kaki kok. Emangnya ada apa?” tanya Sarah. “Tidak.. aku hanya bertanya saja” kataku. “Ooo.. eh Rani, kita masuk makan dulu yuk. Ayahku sebentar lagi akan pergi mengajar di sekolah. Paling tidak, kita bisa makan bersama-sama walaupun hanya sekali. Yuk..” ajak Sarah. “eh.. tunggu.. tunggu.. tadi kamu bilang ayahmu akan mengajar sebentar lagi. Apakah ayahmu itu seorang guru?” tanyaku. “Iya, bukankah aku sudah memberitahukan kamu sewaktu di Jogja? Ayahku kan seorang kepala sekolah. Apakah kamu lupa?” jelas Sarah. “Oh iya aku lupa. Ayo kita masuk makan. Perutku sudah keroncongan” ajakku.
Aku, Sarah dan kedua adiknya serta orangtuanya pun makan bersama. Pada saat makan, Ayah Sarah bertanya kepadaku, “Sani, anakku banyak bercerita tentangmu. Apakah kamu adalah seorang guru?” “Benar om. Tapi, aku masih menganggur di rumah” jawabku. “Kalau mau, sebentar sehabis makan, saya mau ajak kamu dan juga Sarah untuk ikut ke sekolah bersama-sama. Lagipula, di sekolah saya, kekurangan guru pelajaran matematika. Mereka yang sempat mengajar di sini, kebanyakan meminta pindah ke sekolah yang lebih bagus lagi. Kamu mau kan? Atau, jika kamu tidak mau mengajar, saya tidak memaksa” kata ayah Sarah. “Oh tidak om. Saya ingin dan sangat ingin untuk mengajar” ujarku. “Baiklah.. setelah ini, kamu dan Sarah harus bersiap-siap. Saya akan tunggu kalian di sekolah” kata ayah Sarah. “Baik” kataku dengan penuh semangat.
Aku dan Sarah pun bersiap-siap dan berpamitan. Kami pun berjalan ke sekolah yang agak lumayan jauh dan sampai di salah satu sekolah dasar yang ada di Rote. 10 ruangan kelas yang ditata dengan cukup rapi, dihiasi dengan rumput-rumput kecil di sekitar halaman sekolah membuatku merasakan bahwa ini sangat-sangat berbeda dengan yang ada di Jogja. Sangat sederhana namun banyak siswa-siswi yang sangat senang berada di sekolah ini. Sarah juga pernah bersekolah di sini. Aku belum memiliki pengalaman untuk mengajar, namun aku memiliki tekad untuk bisa dan harus penuh keyakinan.
Aku dan Sarah disuruh masuk bersama-sama di salah satu ruangan kelas untuk mengajar matematika. Di ruangan kelas itu, aku menemui 15 murid yang dengan semangat untuk belajar. Melihat mereka semangat, aku pun juga turut bersemangat mengajar mereka. Salam dan hormat pun telah mereka berikan. Lalu apakah yang harus aku berikan kepada mereka? Salam mereka seperti salam kepada seorang penguasa yang datang kepada hamba-hambanya. Oleh karena itu, aku harus memberikan kepada mereka sebuah pengetahuan yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi mereka semua. Mungkin, hanya inilah yang bisa saya berikan untuk mereka.
Dalam kelas itu, aku mendapatkan tugas untuk mengajar, dan Sarah pun membantu saya untuk dapat mengerti akan bahasa mereka. Karena, sebagian kecil dari mereka masih terikat akan bahasa daerah. Maka Sarah pun menjadi seorang penterjemahan bagi saya.
Keesokan paginya, masih dengan semangat lagi aku bersiap-siap untuk mengajar. Aku sadar, bahwa aku hanyalah seorang yang dapat membantu di sekolah ini. Dan aku berpikir bahwa, ternyata masih banyak anak-anak desa yang ingin mendapatkan pengetahuan dari orang-orang yang telah bersekolah tinggi. Tapi, bagi sebagian banyak orang, pekerjaan di kota membuat hidup mereka sangat meyakinkan daripada pekerjaan di desa terkhususnya guru. Melihat siswa-siswi yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri walaupun hanya sehari saja, aku tidak mengharapkan balasan dari siapa-siapa lagi. Tugasku di sini hanyalah membantu untuk mengajar dan memberikan kepada mereka walaupun hanya serpihan saja pengetahuan kepada mereka.
Pada waktu aku dengan Sarah berangkat ke sekolah, ibuku menelepon. “Hallo Sani, bagaimana kabarmu? 5 hari lagi kamu akan pulang kan?” tanya ibuku penuh cemas. “Ibu, aku baik-baik saja. Ibu tidak usah khawatir, Sarah dan keluarganya menjagaku kok. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal dari ibu?” pintaku. “Apa itu sayang?” tanya ibuku. “Aku ingin lebih lama lagi di sini. Aku sangat ingin mengajar. Aku diminta oleh ayah Sarah untuk mengajar anak-anak sekolah dasar pelajaran matematika. Boleh yah ibu? Ku mohon” kataku penuh harap. “Sayang, apakah tidak ada tempat lagi di Jogja yang cocok dengan profesi kamu menjadi guru? Di sini banyak sekali sekolah-sekolah berstandar internasional yang masih membutuhkanmu. Berapa gaji di sekolah yang kamu ajarkan itu? Itu tidak akan cukup untuk keseharianmu” jawab ibu dengan nada meninggi. “Ibu, aku tidak perduli tentang sekolah-sekolah elit di sana. Ibu, di sini banyak sekali anak-anak yang ingin mendapatkan pengetahuan dari sosok guru sepertiku ini. Namun, berapa banyak orang yang mengajar di desa-desa seperti ini? Hanya hitungan jari saja. Dan jika demikian, bagaimana dengan masa depan mereka? Bagaimana dengan hidup mereka selanjutnya? Soal gaji, aku tidak peduli bu. Senyuman dan kecerdasan mereka, itulah yang akan menjadi gaji terbesar yang tidak semua orang dapatkan. Ku mohon. Berikan aku waktu lagi cukup lama di sini. Aku janji, aku akan pulang menemui ibu dan juga ayah di rumah” tegasku. “Baik sayang. Kalau memang itu yang kamu mau. Ibu akan kasih kamu waktu selama 2 bulan. Kurasa itu sudah cukup bagi kamu” kata ibu. “Trimakasih ibu, salam ayah” kataku bergembira. “Baik sayang. Jaga dirimu baik-baik. Salam semua keluarga Sarah juga yang ada di Rote” pinta ibu. Aku akhirnya diberikan 2 bulan untuk tetap di Rote dan juga mengajar.

sumber
 http://cerpenmu.com/cerpen-pendidikan/serpihan-pengetahuan.html